Menurut
berbagai penelitian, jenis makanan ini juga bisa menjadi penyebab munculnya
penyakit kanker nasofaring. Inilah jenis tumor ganas yang muncul di daerah leher
dan kepala. Hampir 70 persen dari tumor ganas yang menyerang kepala dan leher
adalah kanker nasofaring. Dari segi keganasan berbagai jenis kanker, jenis ini
menduduki urutan keempat setelah kanker payudara, kanker serviks (leher rahim),
dan kanker paru-paru.
Gawatnya, jenis kanker ini justru tidak
menunjukkan gejala yang khas sehingga tidak disadari oleh penderita. Akibatnya,
sering pasein datang dalam kondisi stadium lanjut. Dr Budianto Komari,
spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari RS. Dharmais yang telah
menangani beberapa kasus kanker nasofaring di RS ini menyebutkan, antara 60-95
persen pasien datang pada stadium III dan IV. "Nasofaring adalah daerah
tersembunyi yang terletak di belakang hidung, berbentuk kubus. Secara sepintas
bagian ini memang sulit dilihat, karena berada di pertengahan tengkorak,"
ujar Budianto.
Apakah kanker
nasofaring itu?
Kanker
nasofaring (Nasopharyngeal Carcinoma), adalah kanker yang menyerang bagian
depan nasofaring berbatasan dengan rongga hidung, bagian atas berbatasan dengan
tengkorak dan bagian bawah berbatasan dengan langit-langit dan rongga mulut.
Nasofaring kaya akan jaringan limfe atau getah bening. Karena sifatnya yang
tersembunyi ini pula diagnosis medis hanya bisa dilakukan dengan biopsi atau
pengambilan jaringan di area tersebut.
Di Indonesia, kanker nasofaring merupakan tumor
ganas terbanyak di bidang THT dan merupakan urutan ke-5 terbanyak untuk tumor
ganas di seluruh bagian tubuh dengan angka kematian yang tinggi. Penyebarannya
hampir merata di setiap daerah. Di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo Jakarta
ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS Kanker Dharmais Jakarta terdapat 100
kasus, RS Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus setahun. Di Makassar
terdapat 25 kasus, Denpasar 15 kasus, dan Padang 11 kasus.
Mereka yang Berisiko
Siapa saja yang bisa terkena kanker nasofaring?
Siapa pun bisa terjangkit. Tapi berdasarkan penelitian para ahli medis,
terdapat sejumlah kondisi yang menjadi faktor dominan kemungkinan munculnya
kanker nasofaring. Kanker Nasofaring dilaporkan lebih sering menyerang
laki-laki dibanding perempuan. Perbandingannya cukup jauh, yakni 2,18 banding
1. Di samping itu, kasus kanker nasofaring lebih sering menyerang mereka yang
berusia produktif antara 25-60 tahun.
faktor risiko penyebab kanker nasofaring:
Dari berbagai sumber terungkap bahwa, ada beberapa
faktor risiko penyebab kanker nasofaring, antara lain: Pertama, makan makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan seperti
ikan asin. Pada banyak kasus di Tiongkok, kanker nasofaring disebabkan dari
makan ikan asin. Dari penelitian diketahui bahwa pada ikan asin ditemukan zat
nitrosamin, yang dikenal sebagai salah satu zat yang memicu terjadinya beberapa
penyakit kanker atau bisa dikatakan nitrosamin bersifat karsinogenik.
Kedua, Kanker Nasofaring ditemukan di Asia Selatan. Ada
ras-ras tertentu yang relatif mudah terkena kanker ini. Di antaranya adalah ras
Mongoloid. Masyarakat di daerah Tiongkok bagian selatan, Hong Kong, Thailand
dan Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Amerika Utara, kejadian kasus ini
hanya kurang dari satu di antara 100.000 penduduk. Sementara di Tiongkok bagian
selatan ada 40-50 kasus di antara 100.000 penduduk.
Ketiga, faktor keturunan. Dalam keluarga dengan riwayat
terkena kanker-terutama kanker nasofaring-besar kemungkinan untuk terkena
kanker nasofaring. Keempat, kebiasaan buruk dan lingkungan. Misalnya, merokok
dan mengonsumsi alkohol. Kedua hal ini memungkinkan risiko terkena kanker
membesar. Sedangkan, yang dimaksud dengan lingkungan adalah ventilasi yang
kurang baik, pembakaran dupa, kontak dengan zat karsinogen seperti pada pekerja
pabrik bahan kimia, atau menghirup asap knalpot. Di Hongkong, asap dupa diduga
menjadi penyebab utama penyakit ini.
Gejala kanker nasofaring
Gejala
kanker nasofaring mudah dikenali, tapi jarang mendapat perhatian. Misalnya
benjolan atau pembesaran di kelenjar leher. Sekitar 98 persen dari kanker
nasofaring ditandai dengan gejala ini. Sayangnya pasien sering tidak segera
memeriksakan benjolan atau pembesaran di salah satu organ tubuhnya karena tidak
merasa sakit. Padahal, justru benjolan yang tak sakit itu yang berbahaya, bukan
karena infeksi.
Secara umum, ada beberapa gejala yang harus
diwaspadai. Pertama, pembesaran kelenjar leher. Gejala ini paling sering
ditemukan. Pembesaran ini teraba keras dan tak nyeri. Berikutnya, mimisan
ringan (keluar darah lewat hidung) atau sumbatan hidung. Ini terjadi jika
kanker masih dini. Juga gejala di telinga. Ini merupakan gejala dini yang
timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (saluran penghubung
hidung-telinga). Gejalanya berupa telinga berdenging atau berdengung, rasa
tidak nyaman di telinga, sampai nyeri.
Di samping itu, perhatikan juga gejala pada mata
dan saraf, dapat terjadi sebagai gejala lanjut karena nasofaring berhubungan
dekat dengan rongga tengkorak tempat lewatnya saraf otak. Gejala dapat berupa
nyeri kepala, nyeri di bagian leher dan wajah (neuralgia trigeminal), pandangan
kabur, penglihatan dua (diplopia). Yang lainnya, adalah gejala
metastasis/menyebar atau gejala di leher.
Pengobatan
Jika terlanjur mengidap penyakit ini, masih adakah
harapan untuk sembuh? Prinsipnya, jika penyakit kanker ditemukan dan diobati
pada stadium yang semakin dini, harapan untuk sembuh akan semakin besar.
Standar terapi untuk kanker nasofaring stadium III dan IV a dan IV b (dimana
sebagian besar pasien datang pada stadium ini) saat ini adalah dengan
menggunakan kombinasi radioterapi dan obat kemoterapi. Hasil terapi ini cukup
baik dan pada beberapa pasien bisa sembuh. Hanya saja menurut banyak laporan
studi di beberapa Jurnal Ilmiah, terapi ini juga memberikan efek samping yang
sedang sampai berat kepada pasien yang menjalaninya.
Efek samping lainnya adalah: mual, muntah, rambut
rontok, gangguan ginjal, anemia yang bisa menyebabkan pasien merasa sangat
letih, serta mucositis (sariawan yang berat) sehingga pasien mengalami
kesulitan menelan, biasanya efek ini dikarenakan radioterapi, dan akan
diperberat dengan pemberian obat kemoterapi secara bersamaan.
Menurut D. Zakifman Jack SpPD KHOM, dari RS Kanker
Dharmais, efek-efek samping itu kini seharusnya sudah berkurang jauh. Salah
satu obat yang mempunyai efek samping minimal adalah nimotuzumab (TheraCIM).
Pada terapi kombinasi radioterapi dengan
nimotuzumab, efek samping yang sering muncul, menurut Zakifman, tergolong
ringan yaitu mual, muntah ringan, mucositis ringan, dan rasa tidak enak di
daerah tenggo-rokan. Efek samping ini lebih dikarenakan pemberian
radioterapinya.
Kajian
Jadi, sobat sukses telah membaca artikel di atas, cukup menakutkan ya...
Tapi sobat sukses ikan asin itu tidaklah berbahaya, yang berbahaya itu ialah cara mengkonsumsinya dan kemungkinan bahan lain yang tercampur yang tanpa kita sadari berbahaya bagi tubuh.
Di kampung saya, di Daerah Sulawesi Tengah, Kabupaten Luwuk, tepatnya di Kecamatan Pagimana, ada banyak orang-orang lanjut usia yang sampai sekarang masih mengkonsumsi ikan asin. Banyak dari mereka yang sudah puluhan tahun mengkonsumsinya dan mereka sehat-sehat saja dan panjang umur sob! dari sinilah kita dapat menyimpulkan bahwa ikan asin tidaklah berbahaya. Yang berbahaya itu ialah cara mengkosumsinya yang berlebihan dan pola pikir keliru.
Makan nasi pun secara berlebihan bisa berbahaya, dapat menyebabkan penumpukan karbohidrat yang sangat beresiko pada kesehatan. Bahkan konsumsi nasi secara berlebihan punya kecenderungan untuk menjadi perbuatan yang diharamkan.
“Sikap berlebih-lebihan itu adalah sikap melampaui batas dalam segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh seorang manusia"
Firman Allah
“Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A`raaf : 31)
Sumber:
Internet, Pengalaman Spiritual